Tak Pernah Menyangka Akan Menjadi Begini

Selasa, 16 April 2013


Sedari kecil, semenjak aku mengenal apa yang dinamakan cita-cita, Semenjak guru di sekolah atau orang-orang terdekat menanyakan akan menjadi apa ketika aku besar nanti, Semenjak aku tahu begitu banyak ragam jenis profesi di dunia ini, tak pernah sekalipun terlintas di pikiran aku akan menjadi seorang pegawai pengamanan pemasyarakatan atau biasa disebut sipir.

Sewaktu di Sekolah Dasar, aku bercita-cita jadi Dokter karena aku pikir mereka yang berjas putih dan dapat menyembuhkan penyakit orang lain itu sangatlah keren. Di pikiran seorang anak SD waktu itu, dokter adalah pekerjaan yang paling mulia di dunia. Setelah beranjak ke bangku SMP, aku sadar ternyata jadi Dokter itu emang keren dan mulia tapi prosesnya nggak gampang. Kuliahnya lama, butuh otak yang pintar di atas rata-rata dan biaya menempuh pendidikan dokter pun sangat mahal. Mengingat otak dan kemampuan finansial orangtuaku yang pas-pasan maka aku mencoret profesi dokter dari keinginan dan cita-citaku.

Setelah menghapus mimpi jadi dokter, aku mencoba merubah cita-cita ingin menjadi pengusaha. Aku pengen suatu saat nanti buka toko kue. Aku emang nggak bisa bikin kue, tapi aku suka makan kue. Mungkin cukuplah hobi makan sebagai modal awal :p


Tapi di bangku SMA, cita-cita aku berubah lagi. Aku pikir memang asyik jadi pengusaha. Tapi, kayaknya modal hobi makan aja nggak cukup. Aku pernah nyoba bikin kue, aku ternyata nggak sabaran. Hasilnya, bentuk dan rasa kue yang aku bikin abstrak dan nggak layak dikonsumsi -___-. Untuk itu aku merubah cita-cita menjadi guru. Guru matematika. Untuk cita-cita yang satu ini aku terinspirasi dari seorang guru matematika sewaktu aku duduk di kelas XI. Nama guru tersebut, Beti. Bu Beti adalah seorang guru yang tegas tapi cara ngajarnya asyik banget. Rumus yang njelimet sekalipun bisa dijabarkan dengan bahasa yang mudah dimengerti dan dipahami murid-muridnya termasuk aku. bu Beti juga punya rumus-rumus singkat yang membuat kami mampu mengerjakan soal-soal matematika dengan waktu yang nggak lama. Meskipun tegas, bu Beti juga suka humor. Jadi disela-sela mengerjakan soal-soal mtk, beliau sering melontarkan lelucon yang membuat murid-muridnya tertawa. Pokoknya waktu itu aku benar-benar jatuh cinta sama matematika. Dengan beliau, awalnya nilai matematika yang tidak cukup bagus di kelas X, menjadi jauh meningkat di kelas XI. Sungguh cara mengajar bu Beti membuat aku jatuh cinta dan bertekad ingin menjadi seperti dia. Menjadi guru yang dicintai murid-muridnya, tegas tapi juga lembut dan punya selera humor yang nggak garing, bu Beti juga nggak segan mendengarkan cerita murid-muridnya, bu Beti bener-bener guru matematika yang mampu meluruskan benang kusut rumus-rumus matematika.

Selain karena bu Beti, menjadi guru juga merupakan pekerjaan yang tak kalah mulianya dengan profesi dokter. Apapun pekerjaan di dunia ini, ada karena jasa guru. dokter, pegawai, pengusaha, bahkan presiden sekalipun ada berkat jasa guru. Apalagi kalau ilmu yang diajarkan sang guru benar-benar bermanfaat dan diaplikasikan oleh muridnya maka itu akan menjadi amal jariah bagi sang guru. Guru, sosok yang diguguh dan ditiru, menjadi inspirasi dan panutan oleh banyak orang. Maka dari itu, aku bertekad menjadi guru. 

Tekad itu membawaku memilih jurusan pendidikan matematika di bangku kuliah. Aku sudah 
membayangkan, suatu hari nanti aku akan memakai pakaian layaknya seorang guru, mengajar di depan kelas, menjelaskan rumus-rumus matematika di depan murid-muridku, memotivasi semangat murid-muridku yang menganggap matematika itu sulit, membuat mereka semangat meraih cita-cita, ah sungguh indah bayangan itu di dalam kepalaku.

Tapi, pada kenyataannya garis takdir menjauhkan aku dari bayangan dan cita-cita menjadi seorang guru. Di semester tiga bangku perkuliahan, aku diminta Ayah untuk coba-coba ikut tes CPNS dari Kementrian Hukum dan HAM Republik Indonesia. Awalnya aku ogah-ogahan, karena yang dibuka lowongannya adalah formasi pengamanan permasyarakatan yang tugasnya akn menjadi pegawai pengamanan di lembaga pemasyarakatan. Tapi dorongan orangtua membuat aku luluh. Mungkin do’a dan semangat orang tua jugalah yang membuat aku begitu dimudahkan dalam mengikuti tahap-tahap seleksi CPNS sampai aku dinyatakan lolos.

Awalnya aku sempat merenung, entah apa rencana yang sedang disiapkan Alllah untukku. Kenapa aku yang sudah mantap menjadikan profesi guru sebagai tujuan hidup kini harus menjalani profesi yang sama sekali nggak pernah terlintas di dalam pikiranku bahkan semenjak aku kecil dan mengenal arti cita-cita.
Kemudian aku teringat kalimat bijak “Allah memberikan apa yang kita butuhkan, tidak sekedar yang kita inginkan”. Akhirnya aku sadar, mungkin ini adalah jalan yang memang sudah dipersiapkan oleh-Nya. Disaat teman-teman sebayaku masih menempuh bangku kuliah yang masih memakai biaya dari orangtua, aku sudah mempunyai pekerjaan tetap dan akan mempersembahkan hasil keringatku nanti kepada kedua orangtua, sebagai balas jasa kasih sayang mereka yang tak terhingga sedari aku lahir sampai detik ini. Mungkin ini adalah jawaban dari do’a ku kepada Allah untuk membahagiakan wanita dan lelaki yang paling aku cintai di dunia ini, yaitu ayah dan ibu.

Lagipula, aku sadar nggak ada pekerjaan paling keren atau paling mulia di dunia ini. Setiap pekerjaan (yang halal) mempunyai keberkahan dan kemulian tersendiri. Profesi tukang sapu jalanan sekalipun adalah pekerjaan yang mulia karena olehnya lingkungan menjadi bersih. Tugasku sekarang adalah menjadi sipir yang bertugas menjaga keamanan di lembaga pemasyrakatan wanita di Muara Bulian, Jambi. Dimana aku turut mengamankan dan membina para narapidana wanita. Sekarang aku benar-benar tahu bagaimana kehidupan di balik sel, jauh berbeda dari apa yang digambarkan di film dan sinetron
.
Kerja emang capek, apalagi terikat dengan kedinasan dan pemerintahan. Disiplin dan taat peraturan adalah kunci utama dalam mencapai kesuksesan. Namun aku selalu punya kalimat penyemangat, yaitu “semua lelah akan dibayar dengan rupiah” ditambah pahala jika ikhlas menjalankannya.

Hidup memang aneh, selalu penuh kejutan. Kadang kenyataan sangat jauh dari bayangan dan harapan. Namun apapun yang terjadi, yakinlah Dia selalu memberi apa yang kita butuhkan. Menjalani kewajiban dengan baik adalah bagaimana cara kita bersyukur atas rahmat yang telah diberikan Allah SWT. Thanks god, thanks for everything.


tebak aku yang mana cobaaa? :P

8 komentar:

  1. Wahh mba Enny selamat ya.. hidup memang penuh dengan kejutan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya hanan sama2, sukses juga untuk kamu :)

      Hapus
  2. kamu beruntung bgt bsa jdi pns 2012,,aku ikut tes itu juga tpi aku tidak seberuntung kmu,,aku gagal..tpi selamat ya eni,,smoga jadi abdi negara yg baik...damin amin Ya Robbal alamin

    BalasHapus
  3. 100..
    ini bisa jadi motivasi ku dalam menjalani hidup..
    dan smoga kita smua sukses pada bidangnya masingmasing...
    .
    tengkiu ein

    BalasHapus

Jangan cuma bisa ninggalin kenangan, tinggalin komentar juga dong ^_^

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS