Memori Tentang Ibu

Senin, 09 November 2015





Kalau sudah ngomongin sosok ibu rasa-rasanya kita perlu tisu untuk jaga-jaga kalau ada air jatuh dari mata. Hari ini mamaku ulang tahun yang ke-51 sekaligus ulang tahun pernikahan yang ke-29 tahun. Karena umur aku sekarang 22 tahun, maka yang aku tulis adalah memori kilas balik selama 22 tahun menjadi anak beliau.

Waktu kecil aku nggak masuk TK, mungkin orangtuaku punya alasan tersendiri kenapa nggak memasukan aku ke TK. Tapi meskipun nggak mengecap pendidikan TK tapi aku merasa masa kecil aku menyenangkan. Aku ingat mama yang sambil memasak mengajarkan aku lagu “tukang becak” lengkap dengan gerakannya, dan lagu anak-anak lainnya. Aku ingat mama mengajarkanku berhitung dengan jari-jarinya sambil berbaring di kasur sebelum kami tidur. Aku ingat mama juga mengajarkanku huruf-huruf dari iklan-iklan di majalah atau spanduk-spanduk yang kami lihat sepanjang jalan. Aku ingat tentang mama yang memangku aku yang ketiduran di angkot lengkap dengan iler berceceran di pangkuannya. Aku ingat tentang mama yang mengomel namun setelah itu dia pula yang membujukku untuk makan. Aku ingat tentang mama yang marah kalau aku bolos madrasah (karena pendidikan agama itu sangat penting). Aku juga selalu suka masakan mama meskipun di luar sana banyak restoran yang enak, tapi masakan mama tetap yang terbaik karena aku merasakan cinta di setiap suapannya.



Memori itu membuat aku tumbuh menjadi sosok yang selalu berusaha ceria meskipun nggak dipungkiri kadang ada kesedihan yang susah ditutupi. Kenangan-kenangan itu membuat aku tumbuh dengan hati yang lembut. Untuk semua yang telah mama berikan, aku ucapkan terimakasih.

Ucapan terimakasih tentu saja nggak akan cukup membalas semua yang telah mama berikan. Memang nggak ada anak yang mampu membalas dengan setara kasih sayang yang orangtuanya berikan. Tapi demi rasa syukurku karena Allah menakdirkan aku menjadi anak mama, maka aku ingin berbakti kepada mama sepanjang hidup aku.

Nggak selamanya kita sependapat, ada banyak argumen dan adu mulut yang tercipta ketika aku merasa sudut pandang mama berbeda dengan persepsi yang ku punya. Tapi percayalah ma, aku menyerap semua itu. Aku selalu berusaha mencari jalan tengah agar aku dapat menyenangkan hati mama dan tidak mendzolimi diri sendiri. 

Aku juga paling suka kalau mama sudah curhat, rasanya dia menganggapku sebagai sahabat. Kadang aku meledek mama yang menurutku terlalu berlebihan menanggapi suatu masalah, tapi dibalik itu aku berdo’a agar Allah mengangkat semua kesedihan mama.

Aku mungkin nggak punya banyak uang untuk menyenangkan hati mama, tapi aku selalu meluangkan waktu untuk mendo’akan mama agar Allah menghadiahkan surga atas semua yang mama lakukan sebagai anak, istri, dan ibu. 

Terimakasih untuk jadi ibu sekaligus sahabat untukku. Terimakasih untuk masakan yang enak itu. Terimakasih atas kasih sayang mama yang tiada henti. 

Selamat ulang tahun, Mama.

Love,
Enny Luthfiani.



Ps : maaf ya ma, belum bisa kasih menantu.

1 komentar:

  1. ASik nih ya..
    Emang ngobrol sama emak itu asik. Biarpun kadang suka dicengin kalau lagi curhat.. :)

    BalasHapus

Jangan cuma bisa ninggalin kenangan, tinggalin komentar juga dong ^_^

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS