Cerita Persalinan (Pengalaman Operasi Caesar)

Jumat, 07 April 2017





Saya yakin setiap ibu hamil terutama pada kehamilan pertama pasti menginginkan persalinan secara normal. Kalau bisa intervensi seperti induksi bahkan operasi caesar dihindari. Saya juga begitu ketika hamil, saya sangat berharap bisa normal apalagi setiap saya kontrol ke dokter atau bidan hasilnya saya dan janin sehat-sehat saja, bahkan menjelang HPL (Hari Perkiraan Lahir) hasil USG mengatakan bahwa baby dalam keadaan sehat, ketuban cukup, posisi bagus, secara keseluruhan waktu itu saya yakin banget bisa lahir normal. Makanya saya santai nggak riset Rumah Sakit, hanya janjian dengan bidan saja untuk lahiran di rumah.

Namun manusia hanya  bisa berencana dan Allah SWT juga yang menentukan.
H-3 HPL saya keluar lendir darah.  Secara teori dan pengalaman ibu-ibu hamil, keluarnya lendir darah merupakan tanda akan segera lahirnya  bayi. Saya sudah senang dan buru-buru ke bidan, Ibu Bidannya bilang memang ini pertanda akan segera terjadi persalinan,  dengan catatan disusul kontraksi yang teratur datangnya.

Saya dan suami pulang dari rumah bidan dengan perasaan senang campur deg-degan, karena akan bertemu dengan dia yang kami nantikan selama ini. Malamnya saya nggak bisa tidur karena memang kontraksi datang tapi durasinya tidak teratur. Selain itu ada air yang terus merembes, saya yakin ini air ketuban. Saya tetap berdoa semoga segera datang kontraksi agar saya bisa cepat-cepat ketemu anak saya. Namun dua hari berjalan tetap saja kontraksi nggak muncul dan air ketuban terus merembes. Bidanpun menyuruh saya ke Rumah Sakit. Di Kabupaten tempat saya tinggal hanya ada satu Rumah Sakit Umum Daerah, jadi saya tidak punya pilihan lain. Ketika kontrol dan mengutarakan apa yang saya alami beberapa hari terakhir ini dokter menganjurkan untuk induksi karena memang janin juga sudah cukup bulan (39weeks 6 days).

Padahal menurut pengalaman orang-orang di sekitar saya yang pernah induksi bilang bahwa induksi itu sakitnya berkali-kali lipat daripada kontraksi normal. Tapi demi bisa lahir normal saya mau juga diinduksi.


Induksi adalah proses untuk merangsang kontraksi rahim sebelum kontraksi alami terjadi dengan tujuan mempercepat proses persalinan. Prosedur ini tidak dapat dilakukan sembarangan karena mengandung lebih banyak risiko dibandingkanpersalinan normal. Mereka yang menjalaninya sebaiknya mendapat informasi selengkapnya tentang alasan, prosedur, dan risiko yang mungkin dihadapi. -alodokter.com-
ketika obat induksi mulai dimasukkan diinfus, uuh rasanya syedaaap.


Manusia hanya bisa berencana namun Allah yang Maha Kuasalah yang punya takdir terbaik untuk hambaNya. Setelah kurang lebih tiga belas jam induksi, dan hampir botol ke empat saya menyerah dan minta dioperasi caesar saja. Kenapa? Karena meski sudah diinduksi belasan jam, masih  stuck dibukaan empat. Lagipula benar artikel yang saya baca bahwa rasa sakit diinduksi membuat diri saya terputus koneksi dengan baby di dalam perut dan orang-orang di sekitar saya. Saya sudah sulit memberikan sugesti positif ke diri saya dan masukan dari orang-orang sekitar rasanya sudah nggak terdengar yang ada hanya perasaan ingin cepat-cepat melahirkan agar rasa sakit ini juga berakhir bukan lagi karena ingin cepat bertemu buah hati.

Dokter pun mengizinkan saya untuk operasi dan segala sesuatu mulai disiapkan. Jujur awalnya saya juga sempat menangis sesegukan sebelum operasi dimulai bukan karena takut sakit tapi karena saya merasa “gagal” memberikan yang terbaik untuk anak saya, gagal melahirkan normal. Saya menelpon kakak saya yang sudah berpengalaman punya dua anak dan semuanya melalui operasi caesar, dia bilang mau normal atau caesar, itu semua hanya langkah awal. Masih ada proses panjang untuk menjadi ibu ialah merawat anak dengan baik. Disitu saya tersadar, menjadi ibu yang baik bukanlah dinilai dari proses lahiran normal atau operasi tapi bagaimana kita bisa mencurahkan segenap kasih sayang dan cinta saat merawat dan membesarkan anak. Lagi pula di akhir tulisan ini saya akan ceritakan bahwa ternyata operasi caesar tidak seseram seperti mitos yang beredar di kalangan awam.

Setelah itu saya merasa lebih siap untuk masuk ke kamar operasi. Sebagaimana prosedur pada umumnya pasien yang akan dioperasi tentu akan disuntik beberapa kali, diambil darah, dll. Jujur saya sudah nggak berasa lagi sakitnya, menurut saya suntikan itu Cuma kayak digigit semut sedikit apalagi sebelumnya saya sudah merasakan sakitnya diinduksi jadi kalau cuma soal disuntik sih bukan masalah untuk saya.

Alhamdulillah dokter anastesinya sih baik-baik, menyapa dengan ramah sambil ngajak ngobrol ringan mungkin biar saya nggak tegang kali ya. Setelah dibius, butuh waktu kira kira 15 menit saya merasakan  kaku dari  ujung kaki sampai perut rasanya seperti kesemutan, sampai nggak bisa merasakan apa-apa saat disentuh atau dicubit.

Saya deg-deg-an sih sebenarnya tapi perasaan untuk cepat-cepat bertemu anak mengalahi rasa nervous saya. Apalagi dokternya sudah berpengalaman kali ya, secara mereka mengoperasi sambil ngobrol soal kerjaan, tentang gaji, persis kayak orang lagi nongkrong di cafe sambil ngopi jadi bisa ngobrol santai gitu.  Sisi positifnya sih kalau dokternya anteng banget operasi sambil ngobrol gitu berarti memang sudah biasa dan operasi akan berjalan lancar.

Kurang lebih 10 menit berjalannya operasi saya mendengar suara tangisan, aduuuh nyesss banget rasanya hati. Itu pasti anak kami yang selama ini ditunggu-tunggu. Sayangnya karena ini operasi caesar jadinya anak saya langsung dibawa salah seorang petugas medis (yang kebetulan tetangga saya) untuk dibersihkan dan dokter tetap melanjutkan proses operasi.

Saya menangis harus sambil mengucap syukur, setelah perjuangan panjang akhirnya anak saya lahir dengan selamat. Masih dalam posisi berbaring dan dokter menyelasaikan proses jahitan, bidan membawa anak saya yang sudah dibersihkan dan dibedong. Bidan tersebut menyodorkan anak saya untuk saya cium. Duuuh haru banget deh bisa cium pipi gembulnya. Nggak nyampe semenit, anak saya dibawa lagi ke ruang bayi.

Operasi kurang lebih berjalan Cuma 30 menit, setelah semuanya selesai saya diantar lagi ke ruang rawat inap. Proses operasi memang benar-benar nggak sakit alias nggak berasa. Tahu-tahu anak kita lahir aja gitu. Disuntik bius pun bagi saya nggak sakit.

Hanya saja ada hal yang membuat saya sempat down waktu itu. Karena prosedur di RSUD Tebo tempat saya melahirkan mengharuskan bayi yang lahir dari operasi caesar untuk dirawat terpisah dengan ibunya yaitu di ruang khusus bayi. Sedangkan saya yang masih ada efek bius dari perut sampai kaki disuruh bed rest 24 jam.

Nah ini saran untuk bumil – bumil di luar sana, please cari tahu dulu RS yang akan jadi tempat ibu-ibu melahirkan apakah kalau prosesnya caesar bayi dipisah atau dirawat di ruang khsusus seperti pengalaman saya. Karena kakak kandung saya dua kali operasi caesar, bisa bonding bersama baby pasca operasi meskipun tidak full 24 jam, ya minimal 1 – 4 jam  bayi didekatkan untuk bonding bersama ibu. Lah, di RS saya melahirkan kemarin nggak boleh dengan alasan bayi pasca caesar butuh perawatan khusus dan ibu yang pasca operasi caesar mesti istirahat total.

Saya sempat mewek karena pengen ketemu anak, tapi suami saya membesarkan hati dengan bilang yang penting bayi kami selamat dan sehat. Suami sayapun juga memperlihatkan foto-foto anak saya di ruang bayi.

Satu jam setelah operasi saya sempat demam dan menggigil, kasur saya sampai goyang – goyang karena sangkit kuatnya saya menggigil. Saya benar-benar nggak bisa kontrol tubuh saya. Dari kaki sampai perut mati rasa, dari perut sampai kepala menggigil. Mertua saya manggil suster, dan susternya bilang memang itu efek operasi dan saya sudah diberikan obat penurun panas. Memang sejam setelahnya panas saya turun dan sudah nggak menggigil.


Sekitar 5-6 jam setelahnya obat bius mulai menghilang, saya ngerasa kaki pegal tapi pengen gerak walau sedikit saya coba untuk angkat kaki dan ternyata susah. Sepanjang malam pegalnya terus berasa  akhirnya suami dan ibu mertua bergantian terjaga untuk mijitin dan ngelus kaki saya.

Besoknya ketika visit dokter yaitu dr.Marno, Sp.Og , beliau tanya bagaimana perasaan saya dan saya menjawab sudah jauh lebih baik dari kemarin. Beliau minta saya untuk pelan-pelan latihan duduk di tempat tidur, berdiri kemudian berjalan. Selebihnya beliau bilang semua baik-baik saja. Lega banget dengarnya saya jadi makin nggak sabar untuk ketemu anak saya di ruang bayi.

Awalnya belajar duduk setelah 24 jam hanya berbaring saja itu rada ngilu, tapi karena keinginan saya kuat harus bisa ketemu sama anak rasa sakitnya nggak begitu menganggu. Sampai saya bisa berdiri dan berjalan sambil dipapah suami ke ruang bayi. Saya nggak mau pakai kursi roda, saya merasa fisik saya kuat. Ternyata memang semakin dilatih berjalan, lama-lama rasa sakitnya berkurang.

Begitu sampai di ruang bayi dan melihat anak saya lagi tidur di dalam baby box, rasanya aduhaaaai adem banget dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tiba-tiba ngilu pasca operasi nggak berasa, hehe. Saya mulai menggendong anak kami yang kami beri nama Mukhlas Al Ghiffari. Pipinya yang tembem ngegemesin banget minta dicium. Saya juga mulai belajar menyusui dia untuk pertama kali. Rasanya canggung banget karena  ini pengalaman pertama.  Bidan yang jaga di ruang bayi membantu mengajarkan posisi yang pas untuk menyusui. Namun secara naluriah Mukhlas bisa kok menghisap meski diapun dalam tahap belajar. Saat itu yang keluar hanya kolostrum belum ASI yang lancar. Sehingga tetap saja anak saya harus dibantu dengan susu formula.

Mukhlas umur tiga hari, sudah dibawa pulang ke rumah.


Nah ngomong-ngomong susu untuk anak, kita semua mungkin sudah tahu bahwa ASI adalah yang terbaik. Mau secanggih apapun pabrik dan teknologi nggak ada yang bisa mengalahkan keunggulan ASI buatan Tuhan yang Maha Kuasa. Hanya saja nggak semua ibu langsung lancar ASInya setelah melahirkan. Eits, perlu diingat juga bahwa mitos yang beredar  bahwa ibu yang melahirkan dengan proses operasi caesar itu ASInya nggak keluar itu salah besar ya. Ibu yang melahirkan secara normalpun banyak yang mengalami dua atau tiga hari pasca melahirkan baru ASInya keluar dengan lancar. Begitu juga dengan yang  saya alami, di hari ketiga baru produksi ASI saya banyak itupun distimulasi dengan cara di kompres air hangat dan air dingin bergantian sambil dipijit lembut dan minum pil pelancar ASI (untuk booster ASInya direview lain waktu yaaa).

Awalnya saya sempat sedih dengan kenyataan anak saya harus diberikan sufor di hari-hari pertamanya, padahal impian saya ingin dia dapat ASI ekslusif sejak dia lahir. Namun mempertimbangkan takutnya dia dehidrasi dan bisa berakibat fatal maka saya mencoba mengikhlaskan. Sampai beberapa waktu lalu ada berita viral di internet tentang ibu yang kehilangan bayinya karena kekeuh mau memberikan ASI ke anaknya sampai tiga hari, sedangkan ASI ibunya belum juga lancar. Akhirnya sang anak harus kembali kepada sang pencipta karena dehidrasi, penjelasan selengkapnya bisa dibaca disini. Saat baca berita itu saya jadi bersyukur waktu mukhlas lahir saya nggak ngotot minta dia jangan dikasih sufor. Jangan sampai ideologi kita ingin memberikan ASI ekslusif sampai mengabaikan hal yang lebih penting : Kesehatan dan keselamatan bayi.

So, nanti mommy yang ketika melahirkan ASInya belum keluar jangan khawatir ya. Tipsnya cobalah untuk terus menyodorkan payudara ke anak, hisapannya akan menjadi stimulasi (rangsangan) agar ASI bisa keluar. Makan sayuran hijau, berfikir positif bahwa sebagai ibu secara alami kita pasti bisa menyusui, minum obat pelancar ASI bila diperlukan, dan bisa juga dibantu dengan alat pompa. Alhamdulillah pengalaman saya hari ketiga ASI mulai banyak dan deras sampai sekarang. Semenjak itu saya stop memberikan sufor ke Mukhlas.

Itu mitos terkait ASI ya, ada juga yang bilang bahwa ruginya melahirkan dengan operasi caesar akan ada bekas jahitan dan itu bikin kulit nggak bagus. Kalau menurut saya itu balik lagi ke orangnya masing-masing . Mereka yang melahirkan normal juga ada resiko dijahit lho, dibagian pereniumnya (antara anus dan vagina).  Nah bekas jahitan di tubuh memang harus kita maklumi. Toh bekas luka nggak Cuma bisa berasal dari operasi caesarkan, luka saat kita jatuh waktu kecilpun bisa membekas lama. Tergantung bagaimana kita menyikapinya dan merawat kulit. Kalau saya pribadi cuek aja, toh yang lihat hanya saya dan suami. Suami saya oke-oke aja dan menerima apa adanya.

Lanjut tentang mitos bahwa sakit pasca operasi caesar bisa berbulan-bulan lamanya dibanding mereka yang melalui persalinan normal. Nah, ini balik lagi tergantung masing-masing individu. Sepengalaman saya, memang hari-hari pertama setelah operasi masih sering terasa ngilu apalagi kalau saya batuk atau ketawa ngakak. Namun ketika saya pulang dari RS (hari ketiga pasca operasi) di  rumah saya langsung disibukkan dengan aktivitas mengurus anak seperti menyusui, menggendong, memandikan, dll. Itu semua saya lakukan sendiri dengan aktivitas duduk bersila, berdiri-duduk, jongkok, dll. Sampai sayalupa kalau saya ini baru aja operasi sangking saya merasa tubuh saya baik-baik aja seperti sebelum hamil. Seminggu pertama memang susah untuk tidur miring jadi saya hanya tidur dengan satu posisi yaitu telentang. Namun setelahnya kembali lagi kepada saya yang dulu, tidurnya miring kanan, miring kiri, jungkir balik, hihi. Semua itu nggak berasa sakit atau berpengaruh ke bekas luka.

Tipsnya,  memang ketika pulang dari RS bekas luka kita akan ditutup plester anti air dan tidak dibuka sampai kita kontrol minggu depannya lagi. Nah saya berusaha hati-hati saat mandi agar plesternya tidak terkena air atau sabun. Saya juga makan sayur, telur, yang katanya bisa mempercepat penyembuhan dan minum obat yang diresepkan dokter. Alhamdulillah ketika saya kontrol kembali, plesternya sudah dibuka dan bekas jahitannya sudah mengering jadi setelahnya saya  bisa mandi seperti biasa.

Oh ya, apakah wanita dengan persalinan caesar juga mengalami nifas? Jawabannya iya. Meskipun sang bayi tidak lahir lewat vagina, tapi tetap saja yang namanya melahirkan ada darah kotor yang keluar setelahnya selama kurang lebih empat puluh hari seperti saat kita haid. Meskipun menurut saya darahnya tidak banyak seperti yang orang lahiran normal ceritakan. Jadi saya hanya pakai pembalut biasa ngak perlu pakai pembalut khusus melahirkan yang besar itu.

Intinya sepengalaman saya ternyata operasi caesar tidak seseram mitos yang beredar. Pasca operasi pun saya juga merasa bisa pulih dengan cepat. Semoga cerita saya nggak membuat bumil diluar sana cemas ketika ada indikasi yang mengharuskan untuk lahiran dengan proses operasi caesar.  Yakinlah anak memilih caranya sendiri untuk lahir. Lagipula bukankah teknologi ada atas izin Allah SWT juga? Itu berarti kemajuan perkembangan medis ini untuk membantu agar ibu dan bayi tetap sehat dan selamat, kan?.

Saya pernah menonton suatu program tv yang bintang tamunya adalah dokter kandungan yang cukup terkenal yaitu dr. Ivander Utama, F.MAS, SpOG. Ada kalimat darinya yang membuat saya sempat merasa tidak memberikan yang terbaik untuk anak saya karena melahirkan dia dengan operasi berubah menjadi lega dan menerima keadaan seutuhnya sampai saya membuat tulisan ini. adapun yang dokter  katakan adalah “Tujuan akhir dari kehamilan itu bukan lahir normal atau caesar. Tapi bagaimana anak dan ibunya bisa selamat dan sehat”. Setuju banget kan sama apa yang beliau bilang? Toh setelah melahirkan, sebagai orang tua kita masih punya PR yang lebih besar yaitu bagaimana mengasuh anak dengan penuh kasih sayang dan memberikan pendidikan agama dan ilmu dunia yang terbaik untuknya.

Nah kalau ada bumil yang lagi baca, semangat terus ya untuk memberdayakan diri  dengan cari pengetahuan tentang  kehamilan dan persalinan sebanyak-banyaknya. Makan  makanan yang sehat, dan berolahraga. Yakinlah mau lahiran normal ataupun operasi semuanya sudah diatur takdirnya oleh yang Maha Kuasa.

Sekian cerita persalinan ini , saya tuliskan agar bisa abadi dalam kenangan.

Mukhlas Al Ghiffari

2 komentar:

  1. Gemes lihat muchlas, peengen nyubiiit. Hihihi

    Aku setuju banget soal melahirkan normal dan sc itu, yg penting anak dan ibunya sehat selamat, pake jalan yg mana jg ok wae ^_^
    Soal asi vs sufor pun sepertinya ga penting banget jadi bahan momwar, setiap ibu pastinya kan ingin yg terbaik untuk anaknya :)

    BalasHapus
  2. saya juga setuju dengan pendapat dr. Ivander Utama,
    Keselamatan Ibu dan Bayi harus jadi Prioritas dalam persalinan/proses melahirkan.

    BalasHapus

Jangan cuma bisa ninggalin kenangan, tinggalin komentar juga dong ^_^

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS